BELAJAR KEKERASAN DARI TELEVISI
BELAJAR
KEKERASAN DARI TELEVISI
Oleh :
Noor Fajar Asa
Waktu Masih Menjadi
seorang Wartawan di Tahun 1999-2000 pada sebuah Majalah Islam , Saya berbicang
bincang dengan seorang pensiunan journalis senior koran kompas , namanya Bpk
Poernama , beliau pernah menjadi Redaksi
Pelaksana Kompas dan yg beliau banggakan , beliau juga pernah menjadi Journalis
Indonesia yg meliput Perang Vietnam .Menurut
beliau , kalo mau cari uang modal sedikit tapi untungnya lumayan lumayan , maka
buatlah perusahaan KORAN KUNING , Saya langsung bertanya “ Apa itu KORAN KUNING
..? “ beliau menjawab , KORAN KUNING
adalah Kalo di sobek keluar darah , kalo di peras keluar sperma , kalo di kubur
keluar roh gentanyangan .dengan Bahasa lain bahwa bisnis media cetak yang paling
laris kala itu adalah yang memuat kekerasan , mengumbar aurat dan berita mistis
atau cerita cerita tahayul .Di Tahun tersebut Era di mana Reformasi baru Mulai
, media cetak ramai di mana mana tetapi Media elektronik khususnya Televisi
belum ramai seperti sekarang , baru pada Tahun 2010 di Indonesia , mulailah
semarak Era informasi Digital Informasi di Indonesia , Media cetak lambat laun
mulai tergeser oleh Media Elektronik , Perang kapitalisme para Taipan Taipan
Media Massa dengan Media Televisi sebagai ujung tombak terjadi dengan menyeret
peserta ke medan kancah peperangan di dalamnya adalah Anak Bangsa
Penelitian Robert M
Liebert dan Joyce Sprafkin ( dalam bukunya "The Early Windows: Effects of
Television on Children and Youth, edisi ke tiga, 1988). Liebert dan Sprafkin
memandang televisi sebagai 'Proses Pendidikan dini' anak-anak untuk
melihat dunia. Dalam bukunya, mereka menelaah semua teori dan riset mengenai
sikap, perilaku dan perkembangan anak-anak, membahas efek negatif juga efek
prososial menonton televisi bagi anak-anak. Dalam penelitian itu menyebutkan,
pesawat televisi di Amerika rata-rata dihidupkan lebih dari tujuh jam setiap
hari dan sejak tahun 1950-an secara signifikan telah mengubah kehidupan
keluarga.
Di Amerika sendiri
hampir 98 persen dari semua rumah memiliki televisi sehingga disimpulkan bahwa
anak-anak diterpa televisi sejak mereka lahir.Dari usia sekolah menengah,
terlihat bahwa telah terjadi peningkatan dalam penggunaan media cetak dan
selama masa remaja juga terjadi peningkatan penggunaan radio. Tetapi menurut
Stewart L Tubbs dan Sylvia Moss dalam buku "Human Communication"
1996, selama sepuluh tahun pertama kehidupan anak Amerika yang terkena terpaan
televisi adalah sangat dominan. Karena itu wajar saja bila banyak orang
mengkhawatirkan pengaruh acara kekerasan televisi terhadap anak-anak.Stewart
lebih jauh menjelaskan, diperkirakan bahwa menjelang seorang anak lulus dari
SMU rata-rata mereka telah menonton sekitar 18.000 pembunuhan dalam televisi.
Sebuah survei mengenai acara televisi melaporkan bahwa pada senja hari ketika
sekitar 26,7 juta anak Amerika menonton televisi, insiden-insiden kekerasan
yang diperlihatkan kira-kira sekali dalam setiap 16,3 menit. Soal dampak atau
pengaruh negatif televisi pada pemirsanya, memang terus menjadi perdebatan
sejak era 1940-an hingga kini. Selama bertahun-tahun kontroversi mengenai
pengaruh kekerasan televisi tetap hangat
Teori belajar sosial (
Social Behavior) dalam kaitannya dengan tayangan televisi menyebutkan bahwa,
kekerasan itu cenderung 'dipelajari' oleh pemirsanya. Artinya, semakin
banyak tayangan televisi yang menampilkan kekerasan atau seks vulgar, anak-anak
atau orang dewasa akan melihat bahwa akhirnya kekerasan atau seks itu merupakan
suatu hal yang 'normal'. televisi memang berpengaruh setidaknya menciptakan
'the similar general meaning' atau makna umum yang mirip. Artinya, pemirsa akan
mencoba memahami makna-makna tertentu dari tayangan-tayangan tersebut lalu
melakukan sesuatu yang dianggap sama dalam konteks kehidupan sehari-hari mereka
Menggelisahkan saat
menyaksikan tayangan-tayangan televisi belakangan ini. Hampir semua
stasiun-stasiun televisi, banyak menayangkan program acara (terutama sinetron)
yang cenderung mengarah pada tayangan berbau kekerasan (sadisme), pornografi,
mistik, dan kemewahan (hedonisme). Tayangan-tayangan tersebut terus berlomba
demi rating tanpa memperhatikan dampak bagi pemirsanya. Kegelisahan itu semakin
bertambah karena tayangan-tayangan tersebut dengan mudah bisa dikonsumsi oleh
anak-anak.
Lebih mengkhawatirkan,
kebanyakan orang tua tidak sadar akan kebebasan media yang kurang baik atas
anak-anak. Anak-anak tidak diawasi dengan baik saat menonton televisi. Dengan
kondisi ini sangat dikawatirkan bagaimana dampaknya bagi perkembangan
anak-anak. Kita memang tidak bisa gegabah menyamaratakan semua program televisi
berdampak buruk bagi anak. Ada juga program televisi yang punya sisi baik,
misalnya program Acara Pendidikan. Banyak informasi yang bisa diserap dari
televisi, yang tidak didapat dari tempat lain. Namun di sisi lain banyak juga
tayangan televisi yang bisa berdampak buruk bagi anak. Sudah banyak
survei-survei yang dilakukan untuk mengetahui sejauh mana dampak tayangan
televisi di kalangan anak-anak. Sebuah survei yang pernah dilakukan harian Los
Angeles Times membuktikan, 4 dari 5 orang Amerika menganggap kekerasan di
televisi mirip dengan dunia nyata. Oleh sebab itu sangat berbahaya kalau
anak-anak sering menonton tayangan TV yang mengandung unsur kekerasan.
Kekerasan di TV membuat anak menganggap kekerasan adalah jalan untuk
menyelesaikan masalah
Namun di Indonesia
suguhan tayangan kekerasan dan kriminal seperti Program Acara Patroli, Buser,
TKP dan sebagainya, tetap saja dengan mudah bisa ditonton oleh anak-anak.
Demikian pula tayangan yang berbau pornografi dan pornoaksi. Persoalan gaya
hidup dan kemewahan juga patut dikritisi. Banyak sinetron yang menampilkan
kehidupan yang serba glamour. Tanpa bekerja orang bisa hidup mewah. Anak-anak
sekolahan dengan dandanan yang "aneh-aneh" tidak mencerminkan sebagai
seorang pelajar justru dipajang sebagai pemikat. Sikap terhadap guru, orangtua,
maupun sesama teman juga sangat tidak mendidik.
Dikawatirkan anak-anak
sekolahan meniru gaya, sikap, serta apa yang mereka lihat di sinetron-sinetron
yang berlimpah kemewahan itu. Peranan Orangtua Memang televisi bisa berdampak
kurang baik bagi anak, namun melarang anak sama sekali untuk menonton televisi
juga kurang baik. Yang lebih bijaksana adalah mengontrol tayangan televisi bagi
anak-anak. Setidaknya memberikan pemahaman kepada anak mana yang bisa mereka
tonton dan mana yang tidak boleh. Orang tua perlu mendampingi anak-anaknya saat
menonton televisi. Memberikan berbagai pemahaman kepada anak-anak tentang suatu
tayangan yang sedang disaksikan. Selain sarana membangun komunikasi dengan
anak, hal ini bisa mengurangi dampak negatif televisi bagi anak. Kebiasaan
mengonsumsi televisi secara sehat ini mesti dimulai sejak anak di usia
dini.Dampak tayangan televisi, film, dan penyebaran video
porno melalui internet juga menambah terjadinya praktik kekerasan,
mistisisme, dan hura-hura ala sinetron
Media massa pada dasarnya adalah
suatu entitas ekonomi. bahwa terdapat bermacam cara yang berbeda dalam
menganalisis media, salah satunya ialah dengan melihat media sebagai sebuah
institusi ekonomi yang didalamnya terjadi proses produksi dan penyebarluasan
isi yang ditargetkan pada khalayak (konsumen).
Dalam pandangan yang seperti ini,
maka tentu saja media (terutama TV swasta) beroperasi dengan menggunakan logika
ekonomi pasar yang di dalamnya berlaku hukum penawaran dan permintaan (supply
and demand) untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Untuk
mendirikan sebuah stasiun televisi diperlukan modal dan investasi yang sangat
besar dan para investor tentu juga sangat menginginkan agar modal besar yang
mereka investasikan tersebut dapat cepat kembali atau bahkan menjadi
bertambah.Agar investasi modal tersebut dapat menguntungkan, maka kemudian
pengelola stasiun TV berupaya keras untuk bekerja secara efektif dan efisien
serta sebisa mungkin menurunkan cost dan menaikkan revenue untuk memperbesar
margin keuntungan. Pada berbagai industri media massa seperti TV, iklan menjadi
sumber pemasukan utama yang paling penting dalam menunjang keberlangsungan
sebuah perusahaan media.
Dampak dari hal ini kemudian ialah para
pengelola stasiun TV berlomba-lomba untuk memproduksi berbagai jenis tayangan
acara yang laku keras di pasar demi untuk menarik pemasang iklan agar mau
membeli space iklan di stasiun TV yang mereka kelola tersebut. Proses produksi
dan penayangan ini bahkan seringkali dilakukan tanpa mengindahkan apakah
tayangan acara tersebut menimbulkan dampak-dampak tertentu yang kurang baik
bagi pemirsanya.
Situasi ini merupakan suatu hal yang
memprihatinkan, mengingat bahwa sebenarnya stasiun-stasiun televisi swasta
beroperasi dalam sebuah ruang publik yang bernama frekuensi. Frekuensi adalah
suatu space yang bersifat terbatas (limited), dan setiap orang mempunyai hak
atas frekuensi tersebut. Karena itulah kemudian frekuensi merupakan sebuah
ruang publik (public sphere).
Adalah sebuah kenyataan yang
menyakitkan jika ternyata kemudian yang terjadi ialah ruang publik tersebut
ternyata dikuasai oleh kelompok-kelompok private tertentu dan digunakan
sebesar-besarnya untuk keuntungan ekonomi dan politik kelompok-kelompok private
tersebut melalui pengoperasian stasiun televisi swasta atau lembaga penyiaran
swasta
( Dari Berbagai Sumber )

Komentar
Posting Komentar